Arsip Penulis: Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Ponorogo

Penyuluhan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk Anak (BPTA) Tahap I

Selasa, 9 Feb 2016.

Penyuluhan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk Anak (BPTA) di Kabupaten Ponorogo telah dilaksanakan pada Bulan Februari 2016 di Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan tambahan pengetahuan dan wawasan kepada para peserta penyuluhan dan instansi terkait tentang bentuk-bentuk pekerja terburuk anak bahwa anak tidak boleh bekerja. Kegiatan tersebut juga sebagai sarana pengawasan, perlindungan, dan penegakkan hukum terhadap keselamatan dan kesehatan kerja sehingga memahami tentang arti penting memberikan perlindungan terhadap pekerja anak.

Peserta kegiatan BPTA tahun ini diikuti sebanyak 80 orang terdiri dari tokoh agama, tokoh masyarakat, PKK, orang tua pekerja anak, dan instansi kecamatan di Kabupaten Ponorogo. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah metode penjelasan secara klasikal dalam hal ini penyampaian materi oleh narasumber, kemudian dilanjutkan dengan diskusi antara Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kabupaten Ponorogo dengan para peserta penyuluhan BPTA.

Peserta BPTA Tahap 1

Perayaan Grebeg Suro dan Festival Reyog Nasional XXII Tahun 2015 ” Wujud Pelestarian Budaya dan Promosi Potensi Wisata Daerah”

Rabu (14-10-2015)

12144948_976335212423493_8633561938565657041_n

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, kirab pusaka dalam rangka perayaan grebeg suro  dibanjiri masyarakat baik dari dalam dan luar kabupaten Ponorogo. Sejak sebelum tengah hari masyarakat mulai membanjiri jalan-jalan yang akan dilintasi oleh peserta kirab.

Kirab yang dilakukan sejauh 7 Km dari makam Batoro Katong menuju kantor bupati Ponorogo (Paseban) ini merupakan simbol perpindahan pusat pemerintahan Ponorogo dari Kota lama ke Kota baru. Perpindahan ini ditandai dengan diusungnya 3 Pusaka utama
kabupaten Ponorogo yaitu Sabuk Cinde Puspito, Payung Songsong Tunggul Wulung dan Tombak Tunggul Nogo

kirab-pusaka-grebeg-suro-2015-2Sebelum dikirab tiga buah pusaka yang menjadi simbol pengagem (pegangan) Pemerintah Ponorogo di masa lalu ini, terlebih dahulu dilakukan prosesi pengambilan pusaka dari tempat penyimpanannya, di halaman petilasan (makam) “Batoro Kathong”, yang berada di Desa Setono, Kecamatan Jenangan, yang dianggap kota lama Kabupaten Ponorogo. Setibanya di Paseban Alun-alun Ponorogo ketiga pusaka itu dijamas (dicuci) dengan air kembang yang diambil dari 7 sumber keramat.

Kirab pusaka diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, baik dari pemerintah daerah, BUMD, sekolah dan perguruan tinggi, yang merupakan ilustrasi kejayaan pemerintahan Kerajaan Wengker pada masanya.

 

11224418_977095412347473_6603432226898830734_n

 

 

Thanks To :

Wakoka News

Facebook SEMUA Tentang Ponorogo

 

(Admin)

UPACARA HUT PROVINSI JATIM KE-70 DI KABUPATEN PONOROGO

Senin, 1210201512 Oktober 2015

Pemerintah Kabupaten Ponorogo memperingati HUT Provinsi Jawa Timur Ke-70 di halaman Pendopo Kabupaten Ponorogo, dengan Inspektur Upacara pj. Bupati Ponorogo Bapak Maskur. Upacara berlangsung dengan khidmat yang dihadiri oleh seluruh pejabat dinas terkait di Kabupaten Ponorogo, termasuk diantaranya Dinas Sosial Tenaga Kerja & Transmigrasi Kabupaten Ponorogo .

Dalam upacara HUT tahun ini mengusung tema “AYO KERJA PERKUAT JATIM SEBAGAI PROVINSI INDUSTRI BERBASIS UMKM”.

Berikut sepenggal kutipan pidato Gubernur Jawa Timur yang disampaikan pj. Bupati Ponorogo :

Pembangunan Ekonomi Jawa Timur yang cepat dan merata, tidak lepas dari keharmonisan dan sinergitas  antar para stakeholder mulai dari tingkat pusat hingga tingkat grass root. Hal itu  dimulai dari DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi dan kabupaten/kota, Forkopimda, Partai Politik, Bupati/Walikota, para pengusaha, KADIN, lembaga Perbankan dan Non Bank, Akademisi, Tokoh Agama dan Masyarakat, Organisasi Kemasyarakatan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), media/pers, serta para seniman dan budayawan.
“Kesemuanya bersama seluruh rakyat Jatim telah menjalankan fungsi-fungsi ekonomi baik produksi, distribusi, maupun konsumsi, sehingga ekonomi Jatim tumbuh positif dan lebih cepat dari nasional, meski kondisi ekonomi global sedang lesu,”

Ia mengatakan, tantangan dan hambatan ke depan semakin kompleks dan multidemensional, dengan gejolak ekonomi global yang berdampak pada perekonomian yang melambat. Apalagi di penghujung tahun 2015 sudah diberlakukan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Langkah terstruktur juga telah disiapkan dan tersusun di dalam peta Jatim menghadapi pasar tunggal ASEAN. “Peta jalan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam strategi penguatan tiga aspek ekonomi utama Jatim sebagai bagian operasional dari RPJMD 2014-2019”.

 

Admin